cinta, yang aku ingin hanya mencintaimu secukupnya…
menyayangimu sebisanya…
mendo’akanmu selalu…
cinta, yang aku ingin hanya mencintaimu secukupnya…
menyayangimu sebisanya…
mendo’akanmu selalu…
Hey yang baca…itu tadi judul puisi yang gw buat khusus untuk anda yang sedang berbahagia
Rasulullah pernah berkata kepada para sahabatnya, “ setiap dosa akan diampuni, kecuali mujahirin.”
Para sahabat bertanya, siapakah yang dimaksud mujahirin itu.
“Ialah orang yang berbuat dosa pada malam hari, tanpa seorang pun yang tahu, “ jawab Rasulullah, “ Namun pada pagi harinya, orang itu malah menceritakan kepada orang-orang perbuatan yang ia lakukan semalam. “
Bahwa, seorang tidak diperkenankan menceritakan siapa pun dosa dan aib dirinya. Sebab, saat seseorang berbuat dosa dan tidak seorang pun yang tahu, sesungguhnya Allah sedang menyembunyikan aib itu dari pandangan manusia. Maka, dosa itu tidak patut diceritakan kepada siapapun kecuali kepada Allah, yaitu dengan menyesali dan berjanji tidak akan mengulangi. Lalu, mengubahnya dengan banyak berbuat kebaikan sampai dosa-dosa yang pernah dilakukan akan tampak semakin sedikit, tertimbun kebaikan-kebaikan, sampai akhirnya tak tampak sama sekali.
Dikutip dari buku [ “Ketika Rasul Bangun Kesiangan” : 2010, Muslich Taman : penerbit zaman]
Dari Mu’adz Ibn Jabal R.A Diceritakan suatu saat Rasulullah SAW terlambat datang ke masjid untuk mengimami shalat subuh, hal yang tak biasa Rasulullah SAW lakukan, para sahabat pun lama menunggu beliau. Hampir saja matahari terbit sampai kemudian beliau datang dengan bergegas. Mengimami sholat dengan membaca Surah yang cukup pendek. Usai menunaikan sholat kemudian Rasulullah SAW menceritakan keterlambatan beliau.
“Semalam aku terbangun dan kukerjakan sholat. Setelah itu, aku terserang kantuk yang amat berat. Aku pun tak kuat hingga aku tertidur. Dalam keadaan demikian tiba-tiba aku merasa berada dihadapan Tuhan. Dan bertanya kepadaku, Tahukah kau apa yang sedang diperbincangkan para malaikat tentang kalian? aku pun menjawab tidak tahu, sampai pertanyaan itu diulang-Nya tiga kali dan aku pun mengajukan jawaban yang serupa. Kemudian aku melihat tangan-Nya diantara dua bahuku hingga aku merasakan dingin jari-jari-Nya. Setelah itu tiba-tiba segalanya tampak jelas dan aku mengetahui jawaban yang Ia tanyakan.”
“Kemudian ia kembali menyapaku dan bertanya dengan pertanyaan yang sama : Apa yang diperbincangkan para malaikat tentang kalian?”
“Mereka berbincang tentang kafarat, amalan penghapus dosa, ‘ jawabku.”
“Apakah Kafarat itu?”
“Melangkahkan kaki menuju masjid untuk melaksanakan shalat berjama’ah, tetap berdiam setelah shalat untuk berdzikir kepada Allah, tetap menyempurnakan wudhu meski cuaca sedang sulit (cuaca dingin dan panas).
“Kemudian tentang hal apa lagi ?”
“Tentang amalan yang bisa mengangkat derajat manusia. “
“Amalan apa saja?”
“Menyantuni orang miskin, berkata kepada orang lain dengan lembut, dan mengerjakan shalat malam saat kebanyakan orang sedang terlelap.”
“Allah kemudian berkata kepadaku, ‘Mintalah kepada-Ku!’ Lalu aku menyampaikan : “Ya Allah! Aku mohon kepada-Mu segala perbuatan baik, kekuatan meninggalkan kemungkaran, mencintai orang miskin, dan agar Engkau senantiasa mengampuni dan merahmatiku. Jika Engkau menghendaki suatu cobaan pada satu kaum, jagalah diriku agar tidak terkena fitnah. Aku memohon kemampuan mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu, serta amal-amal yang mendekatkan pada kecintaan-Mu.”
Setelah menceritakan hal itu, Rasulullah SAW bersabda, “Ini adalah kebenaran. Maka, pelajarilah dan ajarkanlah kepada orang lain.”
[ Muslich Taman : penerbit zaman, “Ketika Rasul Bangun Kesiangan” : 2010]
Orison Swett Marden:
Keberhasilan tidak diukur dengan apa yang telah anda raih, namun kegagalan yang telah anda hadapi, dan keberanian yang membuat anda tetap berjuang melawan rintangan yang bertubi-tubi.
Mohandas Gandhi:
Kebahagiaan tergantung pada apa yang dapat anda berikan, bukan pada apa yang dapat anda peroleh.