Semua memang tak lagi sama, tapi selalu ada cara….

Usia bertambah, tuntutan pun mulai berubah…kalo dulu pas masih SD, SMP, SMA, masi bareng ibu bapak, mereka paling bawel kalo nyuruh saya mandi karena jarang mau mandi…trus paling beresin tempat tidur..belajar…de le le…sekarang, seiring berjalannya waktu, semua tidak akan pernah lagi bisa sama…hmm…dan semua tidak akan pernah bisa terulang….lagi…

Walau bagaimanapun memang sudah semestinya seperti ini, waktu memang harus terus berjalan tanpa terhenti…satu hal mungkin yang tidak boleh berubah adalah perasaan kita terhadap mereka…perasaan sayang, cinta, yang juga harus terus berjalan tanpa terhenti…perasaan kita yang tulus kepada keluarga, sahabat dan juga teman2 kita…sulit? mungkin…

Hmm…begitu pun dengan membina suatu hubungan…maksud saya rumah tangga…saya banyak belajar, lebih sulit mempertahankan daripada meraih…saya pun sempat bertanya kepada beliau beliau  yang telah menikah, yang usia pernikahannya sudah lumayan lama…hmm..kira2 sudah hampir 25 tahunan, tentu respondennya dari keluarga dan sanak famili saya sendiri, supaya lebih mudah….apakah mereka pernah merasa jenuh? Sebagian menjawab iya, sebagian lain menjawab biasa-biasa saja…saya melontarkan pertanyaan itu tidak bermaksud apa-apa…iseng sajja, melihat sekarang kasus perceraian banyak terjadi, dan itu tidak hanya  menimpa kaum muda yang baru kemarin menikah tapi juga menimpa mereka yang usia pernikahannya sudah lumayan lama…bahkan menurut temen saya yang pernah magang di pengadilan agama Tangerang, setiap harinya penanganan kasus perceraian disana tidak pernah sepi…perselingkuhan kerap menjadi alasan utama…ckckck…sebegitukah godaan bagi mereka yang berumah tangga…hanya mereka yang sudah berumah tangga yang bisa menjelaskannya…

Bahkan ada satu cerita, dari temen saya juga, temen saya ini kerja di klinik herbal di Bandung, sebelum  pengobatan dilakukan, klinik ini mempersilahkan pasien-pasiennya untuk menceritakan keluh-kesah mereka..karena klinik ini berkeyakinan bahwa penyakit itu sebenarnya bisa datang dari masalah-masalah yang dihadapi…menurut saya pendekatan mereka luar biasa y…saya yakin untuk mendapatkan kepercayaan para pasien saja untuk menceritakan semua masalahnya susahnya luar biasa…hmm…lanjut ke pokok cerita, temen saya bercerita bahwa kebanyakan masalah mereka adalah masalah rumah tangga, bertemu dengan mantanlah dalam status sama2 sudah mempunyai pasangan, kemudian smsan, lanjut pada saling memberi hadiah, telfon2an, kerap menjadi hal yang biasa mewarnai…dan sebagian dari mereka mengaku sadar melakukan itu semua, undercontrol…hiss…benarkah?lalu mereka pun mengaku suami sudah tau semua, dan suami hanya bisa memberikan wejangan “bu, ini semua adalah ujian, ibu harus bisa melewati ini semua”, hanya itu kah? Dan si ibunya mengaku setelah diberi wejangan itu, proses masih to be continued…haih…saya tidak habis fikir…saya berkata seperti ini, mungkin karena memang belum bisa memposisikan diri saya dengan ibu itu, saya hanya tidak bisa membayangkan, kalo saya menjadi ibu itu…mungkin saya akan melakukan hal yang sama atau mungkin tidak..entahlah…

La kok saya jadi terbawa emosi….yah wajar sajja…karena saya hanya mampu memposisikan diri saya sebagai anaknya yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan masa lalu kedua orangtuanya, biasanya yang sedang dilanda puber kedua seperti itu pun, rasanya akan sama seperti jatuh cinta biasa mungkin, buta, katanya……makanya kebanyakan dari mereka bilang undercontrol…alias saya padahal sadar melakukan itu semua, lupa bagaimana perasaan suami atau istri dan anak-anak mereka, bahkan mungkin anak2 mereka yang sudah beranjak dewasa…

Selama ini, urusan perselingkuhan dianggap sebagai urusan antar kedua orang tua sajja, tapi menurut saya anggapan ini nyata2 salah…urusan tersebut nyata2 adalah urusan keluarga yang melibatkan anak tentu saja…kita para anak tidak boleh membiarkan itu semua terjadi, melihat tindakan orang tua kita dalam kekhilafan maka  kita berkewajiban untuk menyelamatkan dengan mengingatkannya….karena pada akirnya orang tua juga manusia…banyak cara yang bisa ditempuh tanpa kita harus menyakiti atau melanggar batas-batas norma kesopanan kita terhadap orang tua…walau bagaimanapun, mereka adalah orang tua kita, yang telah bersusah-susah untuk kita, untuk kehidupan kita, dan kita tidak boleh melupakan point itu…

Bagaimana caranya?hanya kita sendiri yang tahu bagaimana mengingatkan orang tua masing2 dari kita, jika itu terjadi…karena hanya kita yang mengenal betul orang tua kita…lebih baik daripada hanya  berdiam diri sajja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s